Rumus turnover karyawan dan contoh perhitungan

Rumus turnover karyawan membantu HR mengubah jumlah pekerja yang keluar menjadi persentase yang lebih mudah dibandingkan antarperiode. Dengan perhitungan tersebut, perusahaan dapat melihat perubahan pergantian tenaga kerja setiap bulan, kuartal, maupun tahun.

Menggunakan jumlah pekerja yang keluar saja belum memberikan gambaran yang cukup. Lima karyawan yang keluar dari perusahaan dengan 50 pekerja tentu memiliki proporsi berbeda dibandingkan lima orang yang keluar dari perusahaan dengan 500 pekerja.

Oleh sebab itu, perhitungan turnover menggunakan rata-rata jumlah karyawan sebagai pembanding. HR juga perlu menentukan periode dan definisi pekerja yang keluar secara konsisten agar hasil antarperiode tetap dapat dibandingkan.

Rumus Turnover Karyawan yang Dapat Digunakan

Perhitungan turnover karyawan pada dasarnya membandingkan jumlah pekerja yang keluar dengan rata-rata jumlah tenaga kerja selama periode yang sama.

Rumusnya yaitu:

Turnover Rate = (Jumlah Karyawan Keluar ÷ Rata-Rata Jumlah Karyawan) × 100%

Sementara itu, HR dapat menghitung rata-rata jumlah karyawan dengan rumus:

Rata-Rata Karyawan = (Jumlah Karyawan Awal + Jumlah Karyawan Akhir) ÷ 2

Sebagai contoh, perusahaan memiliki 200 pekerja pada awal bulan dan 196 pekerja pada akhir bulan.

Maka:

(200 + 196) ÷ 2 = 198 karyawan

Angka 198 menjadi rata-rata tenaga kerja yang digunakan sebagai pembagi dalam contoh perhitungan turnover.

Contoh Penggunaan Rumus Turnover

Misalnya, terdapat 6 karyawan yang keluar selama bulan tersebut. Perusahaan memiliki rata-rata 198 karyawan berdasarkan perhitungan sebelumnya.

Masukkan angka tersebut ke dalam rumus:

Turnover Rate = (6 ÷ 198) × 100%

Turnover Rate = 3,03%

Dengan demikian, tingkat turnover pada bulan tersebut sekitar 3,03%.

Hasil tersebut menunjukkan jumlah pekerja yang keluar setara dengan sekitar 3,03% dari rata-rata tenaga kerja pada periode pengukuran.

Namun, angka 3,03% tidak otomatis menunjukkan kondisi baik atau buruk. HR perlu melihat konteks perusahaan, karakter pekerjaan, jenis turnover, serta perbandingan dengan periode yang relevan.

Rumus Dapat Disesuaikan dengan Jenis Turnover

Perusahaan tidak selalu harus menganalisis seluruh pekerja yang keluar dalam satu kelompok. HR dapat memisahkan voluntary dan involuntary turnover ketika membutuhkan informasi yang lebih spesifik.

Untuk voluntary turnover, rumusnya dapat ditulis:

Voluntary Turnover Rate = (Jumlah Karyawan yang Keluar Sukarela ÷ Rata-Rata Karyawan) × 100%

Misalnya, dari enam pekerja yang keluar tadi, empat orang mengundurkan diri secara sukarela.

Maka:

(4 ÷ 198) × 100% = 2,02%

HR dapat melakukan pendekatan serupa untuk involuntary turnover dengan menggunakan jumlah pekerja yang keluar bukan atas keputusan sendiri sebagai pembilang.

Pemisahan tersebut membantu perusahaan memahami komposisi pergantian tenaga kerja, bukan sekadar melihat angka keseluruhan.

Konsistensi Data Memengaruhi Hasil Perhitungan

Perusahaan perlu menggunakan sumber informasi yang konsisten ketika menghitung turnover. HR sebaiknya mencatat jumlah pekerja aktif, tanggal keluar, jenis turnover, dan periode pengukuran dengan jelas.

Penggunaan aplikasi absensi online dapat membantu perusahaan mengelola riwayat kehadiran sebagai bagian dari administrasi tenaga kerja. Namun, perhitungan turnover tetap membutuhkan data kepegawaian mengenai jumlah pekerja aktif dan karyawan yang keluar.

HR juga sebaiknya menggunakan metode yang sama ketika membandingkan hasil antarperiode. Perubahan definisi atau periode pengukuran dapat membuat perbandingan menjadi kurang tepat.

Dengan pencatatan yang konsisten, perusahaan dapat menggunakan hasil perhitungan sebagai salah satu dasar analisis tenaga kerja.

Kesimpulan

Rumus turnover karyawan menggunakan jumlah pekerja yang keluar dibagi rata-rata jumlah karyawan, kemudian hasilnya dikalikan 100%. Pada contoh 6 pekerja keluar dari rata-rata 198 karyawan, perusahaan memperoleh turnover sekitar 3,03%.

HR juga dapat menghitung voluntary atau involuntary turnover secara terpisah sesuai kebutuhan analisis. Hal terpenting adalah menggunakan periode, definisi, dan sumber data yang konsisten agar hasil perhitungan dapat dibandingkan secara lebih akurat.