Di bawah ini akan dijelaskan mengenai sejarah batik mega mendung.

Batik mega mendung merupakan motif kain batik yang berasal dari daerah Cirebon. Bentuk motif batik khas kota udang ini menyerupai bentuk awan-awan. Bahkan ada juga yang mengatakan bahawa motif mega mendung merupakan hasil dari pengaruh pendatang dari negeri China.

Makna dari batik Mega Mendung ialah awan yang muncul ketika cuaca sedang mendung. Tidak hanya makna, motif Mega Mendung juga memiliki makna atau filosofi bahwa setiap manusia harus mampu meredam amarah/emosinya dalam situasi dan kondisi apapun, dengan kata lain, hati manusia diharapkan dapat selalu ‘adem’ meskipun dalam keadaan marah, seperti halnya awan yang muncul saat cuaca mendung yang dapat menyejukkan suasana di sekitarnya.

Setelah itu makna dari warna batik Mega Mendung ini merupakan lambang dari seorang pemimpin dan awan biru sebagai sifat seorang pemimpin yang harus bisa mengayomi seluruh masyarakat yang dipimpinnya.

Banyak orang Cirebon yang percaya bahwa, kepopuleran dan kelanggengan batik mega mendung hingga dikenal luas dikarenakan penciptanya adalah seorang hamba Allah yang soleh, sebab memang dalam sejarahnya Pangeran Walangsungsang ini merupakan tokoh penyebar agama Islam di tanah Pasundan. Oleh karena itu jadi banyak yang menganggap bahwa batik mega mendung Cirebon itu merupakan Karomah dari Pangeran Walangsungsang.

Walaupun batik mega mendung dalam tradisi kepercayaan orang Cirebon dipercayai diciptakan oleh Pangeran Walangsungsang akan tetapi belum ditemukan bukti-bukti yang mengarah ke arah itu. Meski demikian motif  mega mendung ini sudah dikenal lama di Cirebon, terbukti banyak peninggalan arkeologis di Cirebon seperti ukiran kayu pada Keraton Cirebon yang menggunakan motif mega mendung. Selain itu motif mega mendung juga ada yang menyerupai gamis batik kombinasi polos.

Sejarah Batik Mega Mendung

Sejarah Batik Mega Mendung

Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri.

Sudah Dicatat dengan jelas, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Dari salah satu benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam paham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan adalah gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep tentang awan juga berpengaruh di dunia seni rupa Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar .

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi salah satu cara masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China di dalam motif batik yang mereka bikin, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon.

Jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan, lancip dan segitiga. Asal mula batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pada awalnya batik dikerjakan oleh anggota tarekat yang mengabdi di keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tarekat mereka. Para pengikut tarekat tinggal di desa Trusmi dan sekitarnya. Dusun ini terletak kira-kira 4 km dari Cirebon menuju ke arah barat daya atau menuju ke arah Bandung. Oleh karena itu, sampai sekarng batik Cirebon identik dengan batik Trusmi.