Prospek usaha tanaman jagung adalah komoditi serealia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian saat ini telah memastikan bahwa ketersediaan komoditas pangan mencukupi kebutuhan nasional. Jagung tidak digunakan untuk bahan pangan tetapi juga dapat dijadikan sebagai pakan. Dalam tahun terakhir usulan penggunaan jagung oleh industri pakan sampai 50% dari total kebutuhan nasional.

Hal tersebut meyakinkan adanya beberapa sentra produksi jagung sekarang sudah mendapat target produktivitas 8 sampai 9 ton/ha. Peningkatan produktivitas dapat menjamin tercukupinya kebutuhan jagung. Bapak Suwandi pada tanggal 5 Januari 2021 melalui Program Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan Korporasi (ProPaktani) yang bertujuan untuk peningkatan produksi dan ekspor agar sektor pertanian semakin kuat sebagai penopang perekonomian nasional.

Lebih lengkapnya baca: usaha pertanian jagung

Berdasarkan laporan prognosa perhitungan Pusdatin Kementan, luas tanam jagung nasional Oktober 2019- September 2020 mencapai 5,5 juta ha, luas panen jagung nasional sampai Januari 2020 mencapai 5,16 juta ha.

Maka dari itu, upaya pemerintah untuk menggenjot produksi jagung di dalam negeri memberikan hasil yang maksimal melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas agar dapat meningkatkan pendapatan petani jagung dan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional.

Perluasan areal dapat diarahkan pada lahan potensial seperti lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, dan lahan kering yang belum pernah dimanfaatkan untuk pertanian. Di luar Jawa 20,5 juta ha lahan kering yang dapat dikembangkan sebagai usaha tani jagung.

Baca juga: mesim pemipil jagung

Data Pusdatin Kementan,  ada 10 provinsi di Indonesia produsen jagung tertinggi mempunyai kadar air 15 persen Januari sampai Desember 2020. Peringkat 1 sampai 3 nasional tahun 2020 tidak bergeser dibandingkan tahun 2019. 1. Provinsi Jawa Timur, luas 1,19 juta ha menghasilkan 5,37 juta ton jagung. 2. Provinsi Jawa Tengah dengan luas panen 614,3 ribu ha menghasilkan 3,18 juta ton jagung. 3. Provinsi Lampung dengan luas panen 474,9 rb ha menghasilkan 2,83 juta ton jagung. 4. Provinsi Sumatera Utara luas panen 350,6 rb ha menghasilkan 1,83 juta ton. 5.  Provinsi Sulawesi Selatan  luas panen 377,7 rb menghasilkan 1,82 juta ton jagung. 6. Provinsi Nusa Tenggara Barat luas panen 283 ribu ha mendapat 1,66 juta ton jagung. 7, Provinsi Jawa Barat luas 206,7 ribu ha menghasilkan 1,34 juta ton jagung. 8, Provinsi Sulawesi Utara luas 235,5 ribu ha menghasilkan 0,92 juta ton jagung. 9, Provinsi Gorontalo luas 212,5 ribu ha menghasilkan 0,91 juta ton jagung. Terakhir 10, Provinsi Sumatera Selatan luas panen 137 rb ha menghasilkan jagung mencapai 0,80 juta ton.

 

Selanjutnya melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas, agar pengembangan jagung memerlukan peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, kualitas produk, nilai tambah, perbaikan akses pasar, pengembangan unit usaha bersama, perbaikan permodalan, pengembangan infrastruktur, dan pengaturan tataniaga dan insentif usaha. Dalam kaitan tersebut diperlukan berbagai dukungan, termasuk dukungan kebijakan pemerintah.

 

Aspek teknis, teknologi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan jagung ialah varietas hibrida dan komposit lebih unggul (termasuk penggunaan bioteknologi), memiliki sifat toleransi kemasaman tanah, kekeringan, teknologi produksi benih sumber dan sistem perbenihan-nya, teknologi budidaya yang efisien dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), dan teknologi pascapanen untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk.

 

Dilihat dari sumberdaya lahan dan ketersediaan teknologi, Indonesia memiliki peluang untuk menanam jagung dan bahkan terdorong pula menjadi masukan di pasar dunia mengingat semakin meningkatnya permintaan dan semakin menipiskan volume jagung di pasar internasional.

Investasi diperlukan untuk pengembangan jagung sesuai dengan keinginan target yang diinginkan. Terdapat 2 skenario pengembangan jagung nasional dalam periode 2005 sampai 2025. Skenario 1 atau skenario moderat, laju pertumbuhan produksi 4,24%/tahun. Kebutuhan investasi dalam pengembangan jagung skenario 1 dan 2 waktu 2005 sampai 2025 adalah 29,0 trilyun, dan 33,7 trilyun. Dana investasi mencakup perluasan areal tanam pada lahan sawah, pembukaan lahan kering dan infrastruktur, perbenihan, penyuluhan, penelitian dan pengembangan. Proporsi investasi menjadi tanggung jawab masyarakat 4%, sedangkan yang bersumber dari pemerintah dan swasta masing-masing dengan proporsi 74% dan 22%.

Kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan jagung adalah kebijakan pengembangan insentif investasi, kelembagaan keuangan dan permodalan, peningkatan dukungan teknologi yang siap diterapkan di lapangan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, kelembagaan agribisnis, dukungan pemasaran, serta dukungan peraturan dan perundangan.

By rina

Saya adalah penulis di yentit.com yang sangat tertarik pada perkembangan teknologi, khususnya dalam dunia IT. Saya juga senang belajar hal-hal baru dan senang berbagi informasi seputar bisnis serta tips terkini.