Sejarah Batik parang memiliki ragam motif yang sangat luas. Di antara berbagai motif, batik parang adalah yang paling populer. Menurut sejarah, motif golok diciptakan oleh Sultan Agung Mataram saat bertapa di pantai selatan. Sang sultan terinspirasi dari ombak laut Parangtrit. Tak butuh waktu lama bagi Sultan Agung untuk menjadikan golok sebagai topik pembicaraan.
Motif parang memiliki dua bentuk yaitu gareng dan mlinjo. Garngo berbentuk lengkung dan mlinjo berbentuk wajik. Kenapa disebut Gareng? Karena diambil oleh tokoh pewayangan yang disebut “Gareng”. Sosok Gareng merupakan simbol kebijaksanaan.
Sejarah Batik Parang dan Filosofinya
Sebelum memahami makna filosofisnya, terlebih dahulu kita harus memahami apa itu parangbatik? Begitulah cara orang mengenali motif batik parang ketika ingin membeli kain batik. Budayawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof. dr. Bani Sudardi menjelaskan, motif batik parang merupakan motif yang menggambarkan ombak laut yang menghempas bebatuan di selatan Yogyakarta.
“Batik parang adalah motif batik yang terdiri dari gambar gelombang dan posisi miring. Tempat ini menggambarkan ombak kawasan Parangtritis yang bergunung-gunung dan landai,” ujarnya
Menurut situs Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, motif parangbatik merupakan salah satu motif batik tertua di Indonesia yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Nama parang berasal dari bahasa Jawa pereng yang artinya lereng atau bebatuan. Nama tersebut mewakili motif batik parang yang menyerupai huruf S pada kemiringan atau sudutnya.
Susunan motif S bersifat berkesinambungan atau tidak terputus. Motif batik parang memang berbeda-beda. Dipinjam dari website Ngayogyakarta Hadiningrat, motif batik antara lain barong patah, barong, gendreh dan pedang klithik.
Makna Filosofis Batik Parang

Berikut sejumlah makna filosif motif batik parang
1. Penghormatan Raja Jawa Kepada Leluhur
Bani mengatakan, makna filosofis parangbatik adalah semacam penghormatan kepada leluhur raja-raja Jawa. Parangbatik berasal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusomo untuk menghormati leluhurnya Panembahan Senapati. Bani mengatakan, motif parangbatik merupakan simbol perjuangan Panembahan Senapati saat membuat tirakatnya di pantai selatan Yogyakarta. “Sampai saat ini Panembahan Senapati mendapat inspirasi dan keberanian untuk mendirikan kerajaan Mataram,” imbuhnya.
2. Petuah agar manusia tidak mudah menyerah
Mengutip dari Indonesia Travel, makna filosofi parangbatik adalah sebuah nilai dan nasehat agar manusia tidak mudah menyerah, apapun yang terjadi dalam hidup. Pola garis sambung merepresentasikan kegigihan seseorang untuk memperbaiki diri dari waktu ke waktu dan pantang menyerah untuk mencapai kemakmuran. Selain itu, tema parangbatika adalah upaya manusia untuk lebih meningkatkan hubungan dengan Tuhan, alam dan sesama
3. Pedang para ksatria
Mengutip situs Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ada dua versi makna filosofis motif parangbatik. Pada versi pertama, motif tersebut berasal dari bentuk pedang ksatria dan penguasa masa perang. Dipercaya bahwa seorang kesatria yang menggunakan motif ini dapat melipatgandakan kekuatannya.
4. Ombak laut selatan
Versi lain mengatakan bahwa Panembahan Senapati membuat motif parangbatik ini dengan mengamati pergerakan ombak Laut Selatan yang menghantam bebatuan di pantai. Dengan demikian, pola garis lengkung pada motif parangbatik merepresentasikan gelombang laut yang merupakan pusat energi alam.
5. Lambang kekuasaan
Motif Parangbatik juga mengandung makna filosofis tentang kedudukan raja. Susunan miring pada motif parangbatik ini merupakan simbol kekuatan, keagungan, kewibawaan dan kecepatan gerak.
Makna filosofis yang berbeda dari motif parangbatik ini membuat penggunaannya terkait dengan aturan tertentu, sehingga tidak semua orang bisa menggunakannya, atau di keraton Yogyakarta disebut awisan dalem. Bani menjelaskan, tema utama parangbatika adalah batik yang khusus dipakai para raja.
Oleh karena itu, motif batik parang tidak boleh sembarangan dikenakan oleh masyarakat umum, apalagi jika berada di keraton. “Kebanyakan orang tidak boleh menggunakan batik hutan atau lereng karena itu batik khusus untuk raja ketika dia ada di sana,” katanya.anda sekarang bisa memulai bisnis batik online berikut sekilas artikel tentang sejarah batik parang
Saya adalah seorang penulis di yentit.com dengan minat yang mendalam pada perkembangan teknologi, terutama di bidang IT. Saya senang belajar hal-hal baru dan dengan senang hati berbagi informasi seputar bisnis dan tips terkini dengan pembaca.